Kampus Santa Maria, Juanda, Jakarta. Kantor Yayasan : +62 21350 4282
Kampus Santa Maria, Juanda, Jakarta. Kantor Yayasan : +62 21350 4282

Sejarah Santa Maria

Kampus Santa Maria, Juanda, Jakarta memiliki sejarah yang panjang dan berdiri pertama kali sejak jaman perang kemerdekaan.

Pada tahun 1854 Monseigneur  P.M Vrancken Vikaris Apostolik dari Vikariat Batavia dipulau jawa telah membeli sebuah rumah besar di tepi jalan Noordwijk yang letaknya berhadapan dengan rumah istana gubernur jendral. Rumah yang menjadi biara pertama di Indonesia. Disebut juga sebagai biara besar (Groot Klooster). Di tahun 1896 kompleks biara berkembang meliputi biara, asrama, 18 ruang kelas, tiga ruang besar untuk pendidikan jasmani, keterampilan, seni suara dan satu ruang serba guna yang dibentang dari jalan Noordwijk hingga jalan batu tulis.

Kampus Santa Maria sebagai sekolah dengan pendidik perempuan pertama di Indonesia Ursulin berperan aktif ikut mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Kampus Santa Maria ingin mewujudnyatakan suatu tatanan masyarakat yang adil dan makmur sesuai dengan cita-cita kemerdekaan melalui karya pendidikannya.

Karya pendidikan Ursulin semakin berkembang dengan mengacu pada peraturan-peraturan pemerintah dalam setiap strategip pendidikannya namun tetap berjalan beriringan dengan semangat Santa Angela mengutamakan Ke Indonesiaan; Negara Pancasila; Kebhinekaan.

Sedangkan Yayasan Nitya Bhakti baru berdiri beberapa dekade selanjutnya. Berdirinya Yayasan Nitya Bhakti dapat terhitung sejak April 1958  ketika Kantor Wali Gereja memberikan instruksi agar semua biara mendirikan yayasan untuk sekolah yang dikelolanya, agar keberlangsungan sekolah dan biara tetap terjamin. Pada 29 Mei 1985 dengan akte notaris berdirilah Yayasan Nitya Bhakti. Nitya Bhakti  berarti “Senantiasa Berbakti”. Ketua yayasan pertama saat itu adalah Sr. Inigo Prawirataroena OSU.

Di tahun berdirinya yayasan NItya Bhakti 1958, proses Indonesianisasi terjadi, biarawan/wati dari luar Indonesia tidak diijinkan berkarya di Indonesia. Hal ini memberi dampak positif dengan terpakainya tenaga-tenaga asli Indonesia sehingga karya kerasulan lebih maksimal. Hal ini pun berdampak pada tenaga kependidikan yang mengajar di sekolah katolik haruslah benar-benar warga negara Indonesia.

Visi dan Misi

Komunitas pembelajaran yang kritis,kreatif dan,inovatif, dalam mengintegrasikan iman dan nilai – nilai kemanusiaan seturut semangat  Santa Angela
  1. Menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas dan terpadu serta menyiapkan peserta didik ke jenjang yang lebih tinggi.
  2. Mengembangkan potensi dan ketrampilan secara kritis, kreatif dan inovatif dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi secara optimal
  3. Menanamkan semangat Santa Angela pada setiap pribadi agar dapat hidup sesuai dengan perkembangan jaman.
  4. Mengintegrasikan ilmu, Iman dan nilai – nilai kemanusiaan serta menjawab tantangan jaman dan mewujudkan Serviam dalam kehidupan sehari – hari
  5. Menanamkan cinta pada budaya , bangsa dan tanah air Indonesia dengan menghargai kebhinekaan dalam budaya dan agama.
  6. Mengembangkan kepedulian terhadap sesama dan alam ciptaan.
  7. Meningkatkan kerjasama dengan sesama sekolah Ursulin di Indonesia , di tingkat Asia Pasifik maupun dunia , dengan ikut ambil bagian dalam pertemuan – pertemuan ditingkat Nasional maupun Internasional.